English
English
Vietnam

Pep Guardiola dipastikan akan meninggalkan posisinya sebagai pelatih Manchester City pada akhir musim ini. Keputusan tersebut menandai berakhirnya perjalanan panjang sang pelatih asal Spanyol setelah sepuluh tahun penuh kesuksesan bersama klub asal Manchester itu. Laga melawan Aston Villa akan menjadi pertandingan terakhir Guardiola sebagai manajer City sebelum resmi mengakhiri masa baktinya di Stadion Etihad.
Meski kontraknya sebenarnya masih berlaku hingga 2027, Guardiola memilih memanfaatkan klausul khusus untuk mengakhiri kerja sama lebih cepat. Setelah tidak lagi menjadi pelatih utama, ia tetap akan terhubung dengan City Football Group melalui peran baru sebagai duta global sekaligus penasihat teknis bagi sejumlah klub yang berada dalam jaringan perusahaan tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa hubungan Guardiola dengan Manchester City tetap terjaga meski dirinya tidak lagi berada di pinggir lapangan.
Selama menangani Manchester City, Guardiola berhasil membangun salah satu periode paling sukses dalam sejarah klub. Ia mempersembahkan total 20 trofi, termasuk enam gelar Liga Inggris, tiga Piala FA, lima Piala Liga, serta trofi Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub. Beberapa pencapaian paling bersejarah terjadi ketika City meraih treble winners pada 2023 dan mencatat 100 poin dalam satu musim Liga Inggris pada 2018, sebuah rekor yang menjadi bukti dominasi mereka di kompetisi domestik.
Kepergian Guardiola meninggalkan kesan mendalam bagi klub dan para pendukung Manchester City. Sosoknya tidak hanya dikenal sebagai pelatih sukses, tetapi juga figur yang mampu membentuk identitas permainan modern City dengan gaya sepak bola menyerang dan penuh disiplin. Pihak klub menilai warisan Guardiola akan terus dikenang dalam sejarah Manchester City karena dampaknya dianggap jauh melampaui jumlah trofi yang berhasil diraih selama satu dekade terakhir.